Textile Engineering

PROUD TO BE PART OF Chemical and Textile Engineering

Rabu, 11 April 2012

Ciri-ciri Orang Bertaqwa


6 Ciri-ciri Orang Bertaqwa
Dalam Al-Quran seringkali Allah SWT jajnikan bahwa orang-orang yang bertaqwa Allah sediakan Surga kelak di Akhirat nanti, Allah juga janjikan bahwa orang-orang yang hidupnya bahagia adlah orang-orang yang bertaqwa, mungkin bahasan mengenai orang yang bertaqwa sudah kita bersama ketahui sejak dulu waktu kita masih duduk dibangku SD. Namun mungkin hanya secara bahasa saja yang kita ketahui, bahwa orang yang bertawa ialah orang yang menjalankan semua Perintah Allah SWT dan menjauhi segala Larangan-larangan-NYA. Walaupun pernyataan itu tidaklah salah, Disini perlu kita kaji lebih mendalam sebenarnya orang yang bertaqwa itu bagaimana? Agar kita semua benar-benar mengetahui maksud yang dikehendaki oleh Allah SWT dan kita semua bisa menjadi Hamba yang benar-benar bertaqwa karena hanya dengan begitulah kita akan hidup dengan bahagia didunia dan akhirat.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 177, Allah SWT berfirman :
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ketimur dan kebarat. Tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang-orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalnan(Musafir), peminta-minta dan utuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji ketika berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemlaratan, pendreitaan dan masa perang. Maka merka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang benar-benar bertaqwa” Qs. Al-Baqarah : 177
Dari ayat diatas bisa kita tarik benang merah, bahwa kriteria yang dimaksudkan oleh Allah itu ada 6 kriteria, yaitu:
Pertama, Orang –orang yang menjalankan Rukun Iman dengan baik dan benar. Masalahnya sekarag ini bukanya kita tidak menjalankan rukun iman, akan tetapi tidak sedikit orang memangaku sudah melaksanakan rukun iman secara keseluruhan, mungkin kita sudah tau cara melaksanakan Iman kepada Allah, yaitu sholat, tidak syirik hanya sebatas itu saja. Tapi jika Iman kepada Kitab-kitabnya, Malaikat-malaikatnya tidak jarang orang yang tidak tau bagaimana caranya untuk meng-imaninya. Berikut penjelasana masing-masing dari rukun iman, Iman Kepada Allah: Iman kepada Allah itu bisa kita lakukan dengan cara meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah Dzat yang Maha suci yang bersifat dengan segala sifat yang terpuji seperti Adil, Kekal, Maha Mengetahui dll dan bersih dari sifat-sifat yang kurang/tidak sempurna seperti Tuli, Tidak adil, pemarah ,Dzolim dll. Iman Kepada Hari Akhir : iman kepada hari akhir bisa kita lakukan dengan meyakini bahwa hari akhir adalah hari yang agung diaman pada hari itu manusia akan bangkit dari quburnya, dikumpulkan dipadang mahsyar untuk dihitung amal perbuatnya. Iman Kepada Malaikat : Iman kepada Malaikat bisa kita lakukan dengan meyakini bahwa Malaikat adalah Makhluq Allah yang diciptakan dari Nur/Cahaya yang tidak bisa kita lihat karena keberadaanya yang seperti Hawa, Makhluq yang tidak pernah durhaka terhadap perintah-perintah Allah dan selalu menjalankan apa saja yang allah Perintahkan kepadanya. Iman Kepada Kitab-kitab Allah : Iman Kepada Kitab-kitab Allah bisa kita lakukan dengan meyakini bahwasanya Allah SWT telah menurunkan Kitab-kitabnya kepada Para Nabi yang didalamnya menjelaskan peritah-perintah Allah, Larangan-larangan, Janji-janji, Ancaman-ancaman-NYA, meyakini bahwa Kitab-kitab Allah adalah murni berasal dari Firman-firman NYA diantaranya kitab-kitabnya yaitu Injil, Taurat, Zabur dan Al-Quran. Iman Kepada Nabi : meyakini bahwa Allah SWT telah mengutus para Nabi sebagai bentuk Rahmat dan Anugrah kepada Manusia, yang membawa khabar gembira/ menyapaikan kepada orang-orang yang Shalih dengan adanya Pahala dan membawa memberi berita kepada orang-orang yang durhaka kepada Allah dengan adanya Siksa akhirat nanti, dan menjelaskan kepada umat manusia apasaja yang diperlukannya agar hidup bahagia didunia dan akhirat. Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi yang pertama adalah Nabi Adam dan yang terakhir adalah Nabi Muhammad SAW, dengan begitu kita tidak akan goyah pendirian meski akhir-akhir ini sempat muncul adanya segelintir orang yang mengaku dirinya adalah Nabi.
Kedua, kriteria orang yang bertaqwa selanjutnya adalah: Orang-orang yang memberikan hartanya meskipun harta itu masih dicintai kepada kerabatnya saat mereka membutuhkan, kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan kepada musfir (orang yang melakukan). Sering kali kita memberikan sebagian harta kita, namun sayangnya pemberian itu tidak begitu sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, karena kita hanya memberikan apa saja yang menurut kita sudah tidak kita perlukan, sudah kita anggap sebagai barang yang tidak berarti. Padahal jelas bahwa pemberian yang sesunguhnya adalah ketika kita mampu merelakan memberikan apa yang masih kita cintai, tidak hanya apa yang sudah kita anggap sebagai barang yang tidak berguna/tidak penting. Contoh kecil ketika kita melihat orang cacat yang meminta-minta, meskipun peminta itu telah mengatakan bahwasanya dia belum makan sehari penuh, jika ada didompet kita uang senilai Rp. 150.000 (2 mata uang 50.000-an dan 20.000-an kemudian 1 mata uang 10.000-an ) sudah bisa dipastikan kita akan memberikan mata uang yang paling kecil(10.000), pastilah kita berbangga diri ”wah.. aku sudah berbuat kebaikan sesuai peirntah-NYA”. Meskipun pemberian itu tetaplah sebuah kebaikan, seharusnya kita harus sedikit demi sedikit memberikan harta yang lebih kita cintai (50.000) jangan sampai muncul dalam fikiran kita ungkapan seperti ini “Masih untung saya beri, dari pada tidak?”, jika kita memang benar-benar ingin menjadi Hamba Allah yang bertaqwa, seharusnya kita mulai belajar untuk melatih diri menjalankan perintah Allah secara otpimal. Karena ketaqwaan seorang hamba tidak mungkin muncul begitu saja, tanpa adanya pembiasaan diri.
Ketiga, Mendirikan Sholat, perbedaan orang yang benar-benar bertaqwa dan belum bisa dilihat dari kesungguhnya dalam mendirikan sholat, karena orang-orang yang bertaqwa dalam mendirikan sholatnya tidak beranggapan bahwa sholat adalah sebuah kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan, artinya dia menjalankannya penuh dengan kesadaran dan ketulusan karena butuh, tidak karena kewajiban, jika menganggapnya sebagai kewajiban seseorang akan medirikan sholat seakan peuh dengan paksaan, dan inilah yang akan memberiakan nilai berbeda.
Keempat,  Membayar Zakat, dalam membayar Zakat selain memang sudah menjadi kewajiban kewajiban setiap muslim, bagi orang yang bertaqwa kewajiban ini adala salah satu tanggung jawa sosial. Sehingga bagi seorang Muttaqi (orang bertaqawq) zakat adalah sesuatu yang tak bisa ditinggalkan. Zakat adalah cara kita untuk membersihkan harta kita karena dalam harta kita ada hak-hak orang yang belum mampu yang harus kita berikan, zakat mengajarkan kepada kita untuk peduli kepada sesama manusia, maka orang yang bertaqwa tidalah mungkin bersikap egois dan serahkah dalam masalah material, jika kita masih tak peduli dengan urusan orang lain yang kekuranga harta, maka keredibilitas ketaqwaan kita masih perlu ditanyakan.
Kelima, Menepati janji-janjinya: Mayoritas orang sebuah janji tidaklah begitu penting, acapkali kita dengan gampangnya membatalkan janji-janji kita dengan orang lain, yang sebenarnya halangan kita tidaklah seberapa sehingga sangat memungkinkan tidakan kita itu mengecewakan orang yang kita ajak melakukan janji. Perlu kita ketahui bahwa dalam membuat janji, seorang yang bertaqwa haruslah mencantumkan yang namanya kata “Insyaalah” hal ini sering kali kita anggap hal yang sepele. Padahal Allah memerintahkan kepada kita agar tidak membuat janji dengan orang lain kecuali didalamnya terdapat kata Insyallah. Maka kini marilah kita amalakan ucapan ini dalam setiap janji kita, tak seorang pun tau janji itu aka terlaksana mealinkan disitu kehendak Allah SWT yang maha memberi kita kekuatan juga kesempatan.
Keenam, Sabar dalam Penderitaan: sebuah akhlaq terpuji yang paling berat bagi seorang Hamba Adalah sabar dalam mengahadapi penderitaan. Segala bentuk kriminalitas yang ada didunia ini adalah berawal dari ketidak sabaran, Korupsi didalam pemerintahan adalah bukti real ketidak sabaran para pejabat dalam memegang amanat, Pembunuhan, Pemerkosaan adalah bukti lain dari ketidak sabaran seorang hamba daalm menghadapi cobaan dari Allah, bagi orang yang benar-benar  bertaqwa sesunguhnya sebuah ujian Allah adalah wahan dari Allah untuk menaikan derajat kita menjadi hamba yang lebih mulia, karena dibalik ujian selalu ada kebahagiaan, itu adalah pasti . Barang siapa dalam kehidupan didunia ini memegang prinsip kesabaran baik dalam keadaan lapang maupun penderitaan maka sudah pasti Allah janjikan kehidupan orang yang sabar akan selalu dalam kebahagiaan. Betapa banyak orang merasa Allah tidak adil dalam menentukan takdir-NYA, maka ketahuilah sesunguhnya Allah tak pernah memberikan ketidak adailan dalam hidup ini, yang ada hanyalah kadang yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Karena sesunguhnya Allah memberikan yang terbaik bagi hambanya, dan yang terbaik bagi Allah belum tetu kita lihat sebagai hal yang baik. Namun sesunguhnya Allah SWT maha mengetahui apa yang tidak manusia ketahui. Mungkin Allah belum memberikan apa yang hambanya inginkan, Tapi Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Hanya orang bertaqwalah yang mempunyai Paradigma seperti ini, jika saja kita masih menganggap Allah belum Adil, maka sesunguhnya kita telah mengeluarkan diri dari jalan Ketaqwaan.
Demikian lah 6 karakteristik yang Allah jadikan pedoman bagi Hamba-hamba-NYA dalam membangun pribadi yang bertaqwa, maka barang siapa berpegangan teguh dengan prinsip tersebut, maka Allah akan menjamin kesejahteraan dalam kehidupan seorang hamba baik di dunia dan Akhirat dan Allah tidak pernah mengingkari janji-janji-NYA.
Oleh : Muhammad Irwan Khoiruddin
Mahasiswa Jurusan Teknik Tekstil                                                        alrasikhlppai@yahoo.com
Fakultas Teknologi Industri
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta  
Selasa, 13 Maret 2012
dipojok kamar pondok pesantren Pandanaran
Poskan Komentar